Friday, November 22, 2013

Adhi VS Arez

“kok dia makan sendiri sih? Kok mojok gitu dia?? Ihh kasian.. yaampun dia mainan semut...”, gue cuma bisa mumbling sendiri ngeliat “Mikha Angelo” X-Factor KW2 yang lagi makan sendiri dipojokan kantin. Seriously, pada detik itu keinginan gue buat nyamperin si Mikha KW ini mungkin setara dengan seorang buruh yang sudah 4 tahun menginginkan kenaikan gaji. Si Mikha KW ini sebut saja adhi *nama disamarkan*, anaknya memang sedikit aneh, dalam sudut pandang gue dia terlihat agak sedikit psikopat, apalagi setelah gue ngestalk twitter dan path nya, kesan negatif itu menjadi semakin nyata. Header twitter nya juga semakin menambah kesan seram, padahal itu Cuma tulisan nama band tapi dengan font kayak berdarah-darah gitu, bandnya pun gue gatau yang mana, ditambah lagi nama bandnya yang kurang catchy dan terlalu panjang. Okay cukup membahas nama band ga jelas tersebut. Gue baru kenal adhi di semester ini, sebelumnya gue bahkan belum pernah ngeliat doi, mungkin karna doi hidden banget dan ga terlalu mencolok berkat rambutnya yang dulu nyaris gondrong. Tapi sebenernya gue udah mulai crush sama si adhi ini bahkan waktu doi masih gondrong, gue udah punya feeling kalau sebenernya anak ini tuh cakep. And guess what? When he got a haircut, suddenly my competitors was out of control. I know it! I know it! Gue tau gue punya indera ke 6, dan itu berfungsi baik terutama buat mangsa-mangsa gue.

Well, beralih sejenak dari adhi si “mikha angelo”, ada satu lagi cowo yang mempunyai kapabilitas untuk membuat gue “fly” enough. Kali ini KW nya Zayn Malik, TAADAAA!!! Sebut saja arez *nama disamarkan*, arez ini nyatanya memang ngefans berat sama zayn malik. Sebelum menjelma jadi zayn, doi juga punya rambut yang agak panjang, tapi setelah kenal Zayn, ZAAPP!! Ganteng banget lah pokoknya. Lucu memang kalo melihat proses perubahan drastis kedua KW’an selebriti ini sama-sama berawal dari potongan rambut. Dan lebih lucu lagi mengingat crush gue buat arez juga dimulai sebelum doi potong rambut. See? Im the one who see you both first! I know you two are potential :D

Jujur saja, arez ini sangat bertolak belakang sama adhi. Dari segi penampilan ibaratnya adhi itu Jared Letto, arez itu Olly Murs. Kalau dari segi musik yaa bayangin aja Metallica vs One Direction. Sungguh dua sisi yang berbeda.

Nah kita mulai bagian terbaiknya,

Gue bisa dibilang wanita 19 tahun dengan fantasi anak 5 tahun. Buat gue, semua yang ga mungkin bisa jadi mungkin di fantasi gue dan dari fantasi, gue berharap itu semua bisa jadi kenyataan. Ga seperti temen-temen gue kebanyakan yang bahkan buat mengkhayal aja masih mikir. Mereka terlalu kritis buat berimajinasi, menurut gue inilah penyebab Indonesia ga pernah bisa menemukan suatu alat yang benar-benar baru untuk membantu kehidupan manusia. We are lack of imagination! Come on guys, use your imagination! Bayangin dulu ketika Alexander Graham Bell bermimpi bisa berbicara sama orang yang jaraknya jauh, dan kemudian beliau menemukan telepon. Bahkan telepon pun makin berkembang dan melebur dengan segala teknologi yang ada and that is amazing. Imajinasi dan khayalan hebat orang-orang inilah yang akhirnya bahkan bisa membawa gue yang sedang berada di ruang kelas di sebuah kota kecil bisa ngobrol sama cowo nigga dari Hawaii pake skype, keren ga? It all started with a dream and a first step, right?!

Balik ke adhi and arez, bicara soal imajinasi dan fantasi, gue selalu punya fantasi pacaran sama setiap cowo yang gue suka. Untuk adhi, gue selalu berkhayal betapa nge’rock nya gaya pacaran gue nanti, mungkin istilah “He rock my world” bakal berlaku banget sama adhi. Mungkin setahun gue pacaran sama dia bisa jadi rambut gue jadi punk atau malah kayak miley cyrus, gue bakal ga suka mandi dan kerjaan gue Cuma metik gitar sama ke konser metal. Dan ga menutup hal-hal liar lainnya bakal adhi lakuin ke gue dan khawatirnya itu mengubah gue menjadi seorang lady rocker. Tapi disamping itu gue juga berfantasi kalau adhi adalah seorang cowo yang romantis, yang selalu nyanyiin lagu buat gue dengan petikan gitar atau gebukan drumnya. Adhi pun pasti juga selalu bisa melindungi gue dari apapun, karna dia sekilas mirip preman.

Arez, gue selalu membentuk fantasi indah buat arez. Mungkin karena arez adalah tipikal cowo yang rapi, ditambah mukanya yang sehalus porcelain. Gue membayangkan pergi ke konser One Direction sama-sama, ke senayan bareng (karna arez tipikal cowo mall,sedangkan adhi tipikal outdoor gear banget lah), pokoknya hal-hal romantis ala couple tajir gitu. Gue selalu membayangkan kalau kemana gue dan arez pergi kita selalu foto-foto imut berdua pake camera 360 karena memang mukanya arez itu model banget, mungkin kalau lo pernah nonton America’s Next Top Model 2.0 boys and girls, disitu ada model cowo namanya Marvin, nah arez itu mirip banget sama doi.

Dua orang crush gue ini nyatanya membuat gue sadar kalau ternyata pertanyaan “tipe cowo lo kayak gimana?” itu sama aja kayak “kamu kalau udah gede mau jadi apa?” pertanyaan-pertanyaan ini sebenernya intinya sama, cuma pengen nge’tes aja sampe dimana kemampuan mengabstraksikan fantasi lo ke dunia nyata. Semampu apa lo menggambarkan keinginan yang ada jauh di dalam hati kecil lo ke dalam variabel-variabel nyata di dunia. Walaupun terkadang ga sesuai, ya namanya juga abstraksi kadang cocok kadang enggak. Adhi and arez mungkin Cuma sebagian kecil dari abstraksi gue, tapi mungkin bisa aja salah satu dari mereka juga adalah abstraksi yang bener-bener cocok sama gue J we’ll see.


-FOZ-

Tuesday, September 24, 2013

Perfectly Unperfect Story

Kahlil Gibran, one of the most famous poet with his wise word and extremely beautiful poem once said, "a poem is not a statement that can be said or state, a poem is a song from a bleeding wound or a smiling lips".

Even im not really a Kahlil Gibran worshipers, but i believe him. That's why i made poem all the time. When im happy, i make a party with my poem. When im sad, i pour it in my poem. When im in love, im crazy of poem. When im brokenhearted, i cry in my poem.

For a poet like me, making a poem is clearly not a wasting time activities at all. I always feel better after writing my poem. 1 hour, 2 hour, even a half day long i spent to make a perfect poem. More time i spent, more satisfied i'd be. Usually i made poem on afternoon, accompanied by a suitable love or breakup songs that increase my dramatic side. And last but not least, coca cola.

I made my poem with my heart, beyond my wildest imagination of word. And i hope that poem will be able to touch many peoples heart, especially the one which is become the inspiration of that poem itself.

and this is one of my brokenhearted poem, i hope that special someone notice this even not today, tommorow, or the day after tommorow..

PERFECTLY UNPERFECT STORY




Wednesday, September 11, 2013

Balada Baris Paling Belakang

Siang ini kembali kudapati sosokmu, duduk manis 1 meter didepanku.
aku ingat, saat dulu jarak kita belum sedekat ini.. siluetmu adalah satu satunya hal yang menarik ditengah kuliah umum hari itu.

tapi hari ini.. disinilah kita, duduk bersama disuatu ruangan 6x5 meter. 
Mendengarkan ceramah sang guru besar tentang pentingnya konsumen bagi produsen.. aku ga peduli! Kalau saja kamu mau jadi konsumenku barulah aku mau mencoba segala cara agar selamanya kita bisa saling melengkapi siklus produsen-konsumen ini.

Haahh.. rupanya aku terlalu terenyuh memandangi punggungmu sehingga tidak sama sekali memperhatikan apa yang guru besar kita ini bicarakan. Apa boleh buat, kaos raglan abuabu-jingga mu itu ternyata membuat pesonamu lebih menonjol. Ah, tidak! Apapun yang dia pakai memang akan selalu membuat pesonanya bertambah! Yaa, apapun yang dia pakai.

Tidak tau sampai kapan tatapan kagum ini akan selalu tertuju padamu. Tak tau sampai kapan tatapan ini akan terbalas, atau bahkan tidak sama sekali?
dalam hati kecilku, aku ingin sekali melontarkan satu pertanyaan sederhana padamu.. 
Tapi sayangnya tidak pernah ada waktu untuk itu. Karena ketika kedua jarum jam itu bersua menjadi satu garis lurus, kamu pergi. 

Kamu selalu pergi.. dan pertanyaan sederhana itu hanya bisa aku tanyakan pada punggungmu yang lama lama menjauh seakan tak ingin menjawab.. tak ada jawaban..

-FOZ-

Wednesday, August 14, 2013

Bali, The Island of God
-FOZtograph-

Friday, July 12, 2013

Sebelum "SEANDAINYA"

Belakangan ini muncul suatu ketakutan baru di hidup gue, suatu ketakutan yang sebelumnya bahkan ga pernah gue pikirkan untuk ditakuti, gue takut akan kematian #jreengjreeng . Okay, mungkin lo semua bisa ngomong bahwa hal ini adalah suatu hal yang mainstream, but seriously its scary man!

Sejujurnya phobia of death ini juga pernah gue alami waktu gue kecil, gue takut banget nyokap gue pergi ninggalin gue, jadi tiap malem gue berdoa panjang-panjang dengan topik utama agar umur nyokap gue panjang dan sehat, dan syukurnya masih dikabulkan sama Tuhan sampai sekarang (amiinn). 

Me and My Lovely, Health, Strong, and Longlife Mom <3 

Tapi seiring berjalannya waktu gue pun mulai meninggalkan kebiasaan itu dan mengganti doa nya dengan sesuatu yang lebih umum dan krusial untuk remaja seperti “Tuhan tolong buat aku langgeng sama dia”.


Unconditional Happy Family
Nah, semuanya bermulai dari 2 bulan lalu saat gue mendownload games The Sims 3 di laptop canggih gue. Awalnya gue membuat keluarga yang terdiri dari gue, suami gue (aka pacar gue sekarang), Taylor Lautner (gue pengen serumah sama Lautner, masbuloh?) , dan seorang balita dengan nama Zorist Lautner (entah anak gue sama suami gue atau Lautner), gue tinggal di rumah besar nan manis dan harmonis, gue enjoy enjoy aja nyuruh sims gue begini begitu, beli ini beli itu, ditambah lagi simoleons kami gabakal abis berkat cheat (buahahaha). 

Tapi tiba-tiba sims gue berulang tahun dan gue pun mengadakan pesta di rumah lengkap dengan makanan prasmanan dan kue ulang tahun yang gue beli di toko grocery. Sampai situ gue masih woles, dan ketika tiba saatnya buat meniup lilin mendadak suaranya jadi rame terus ... DUAARRR !! Oh enggak, enggak meledak Cuma tiba-tiba sims gue dikelilingi semacam serbuk sari peri bling-bling gitu lalu statusnya berubah dari Young Adult menjadi Adult. Gue terdiam, konyol? Enggak! Lo tau apa? Karna setelah Adult sims gue akan menjadi Elder alias nenek-nenek, begitupula dengan suami gue. 
Dari situ gue mulai berpikir bahwa gue gamau jadi tua, gue takut jadi tua, dan gue takut akan kematian. Alhasil saking takutnya menjadi tua, setting games tersebut gue otak-atik dan gue matikan “aging up”nya, so sims gue gabisa menua lagi.

Hal kedua adalah kejadian hari kemarin, kemarin banget tanggal 11/07/2013. Yang perlu diketahui adalah gue udah pernah merasakan yang namanya kehilangan yang amat sangat menyakitkan dan menyedihkan, 

Adorable and Charming Rivanno Valentino <3 :*
yaitu saat kelinci kesayangan gue Rivanno Valentino meninggal dunia waktu gue masih di Jatinangor, gue bahkan ga sempet mengelus dia untuk yang terakhir kalinya. Kejadian itu sangat amat membuat gue terpukul, saking terpukulnya gue pun jadi seperti orang Alzheimer, berangkat ke kampus dengan mata sembab bengkak dan tanpa memakai dalaman wajib wanita yang berbentuk seperti kacamata, super klimaks. 
Dan kemarin baru saja terulang lagi, kucing hutan gue dan adek yang baru 5 hari kami beli, meninggal. Namanya Gerro Cullen dan mungkin sekarang dia udah beneran jadi seorang “Cullen” di atas sana :”) adek gue nangis sederas air terjun Niagara, dan gue pun teringat air mata sungai Nil gue waktu Vanno tewas.
Bisa dibilang kematian kedua hewan itu adalah dua kematian yang paling amat menyakitkan buat gue. Gue sangat bersyukur bahwa dulu saat engkong gue meninggal, gue belum ngerti apa-apa. Gue bahkan gabisa bayangin kalau harus berhadapan dengan kematian seseorang yang gue sayangi teramat sangat, binatang aja sedih dan sakit nya udah segitunya, gimana manusia?

Dan kemarin pagi itulah gue sadar, bahwa setiap detik kehidupan itu berharga. Sedetik aja lo ga ngelakuin sesuatu yang berharga buat hidup lo itu merupakan kerugian yang sangat besar, lebih besar daripada kerugian akibat kebakaran sebuah showroom mobil penuh dengan Ferrari, Hummer dan Lamborghini.

Waktu Vanno meninggal mungkin karena dia ga keurus, SEANDAINYA gue bawa dia ke pet shop buat dimandiin dan dipotong kuku. Minggu terakhir sebelum Vanno meninggal gue berangkat ke cirebon sama keluarga gue dan gue riweuh sendiri sampe-sampe ga sempet ngelus-ngelus atau say bye ke Vanno, SEANDAINYA gue sempetin mampir ke kandangnya mungkin gue ga akan sesedih itu.

The Most Cutie Kitten in the World,
Gerro Cullen.
Pagi itu Gerro meninggal karena sesak nafas, dia menghembuskan nafas terakhir saat baru saja akan dilarikan ke pet hospital sekitar jam setengah 10. SEANDAINYA gue dan adik gue enggak nungguin bokap gue mandi mungkin Gerro masih bisa selamat sampai di pet hospital. SEANDAINYA gue tau bahwa dari malemnya si Gerro udah ga nafsu makan dan nafasnya mulai ga teratur mungkin dia bisa selamat. SEANDAINYA gue dan adek gue bangun lebih pagi hari itu! Mungkin dia masih ada di kandangnya sekarang, tidur didalam kotak kesayangannya.

And you know what? hal yang paling membuat kita menyesal adalah bukan kematian itu sendiri. Yang paling paling paling bikin kita menyesal adalah saat akhirnya kematian itu sendiri datang lebih dulu daripada kata SEANDAINYA yang banyak kita ucapkan setelahnya. Yap, "I Wish...".
Dari gue sendiri, gue Cuma bisa bilang ada satu “SEANDAINYA” yang mungkin masih bisa kalian semua lakuin, “SEANDAINYA, setelah seseorang membaca cerita gue diatas dan sampai di titik terakhir kalimat ini, dia akan sadar dan langsung melakukan apa yang harus dilakukan sebelum didahuluin sama yang namanya kematian”, Go! Run! Do it! Cause death won’t wait.


-FOZ J-

Friday, May 31, 2013

Tidak Cukup Untuk "Cukup"

Kamis, 30 Mei 2013 . Dear blogs, selama hampir 19 tahun gue hidup di dunia ini, sepengetahuan gue, gue sama sekali bukanlah cewe yang suka neko-neko. Neko-neko dalam artian disini adalah cewe yang harus dianterin kemana-mana lah sama cowonya, cewe yang harus dijemput kalo pulang dari mana-mana, dan juga bukan tipe cewe yang kalo ngambek bakalan baik lagi kalo udah dibeliin tas Hermes. Satu kata, gue INDEPENDENT.

Salah satu kata kunci parameter kepuasan gue itu adalah “cukup”. Cukup bagus, cukup banyak, cukup menghibur, dan cukup-cukup yang lain. Filosofi “cukup” ini, percaya atau engga lebih banyak gue terapkan dalam problematika percintaan gue daripada problematika per-shopping-an. Maaf-maaf aja gue masih cewe normal yang suka banget belanja bro. Tapi urusan cowo, gue cukup satu.

“gue emang suka flirting, tapi gue setia kok!” , setiap gue mengeluarkan kalimat ini, temen-temen gue selalu menjawab dengan berbagai frasa,nada, dan ekspresi yang berbeda tetapi tetap satu arti. Mereka ga percaya. Gue memang cewe dengan hobby luar biasa, hobby gue.. jatuh cinta.

Buat gue jatuh cinta udah bukan sesuatu yang sakral. Bahkan mungkin buat gue jatuh cinta itu udah terjadwal. Dalam seminggu gue bisa jatuh cinta sama cowo yang berbeda-beda. Mulai dari senior satu fakultas gue sampe aa bandung imut dengan rambut ala sasuke yang jualan cemilan di suatu jobfair. Salah satu sahabat terbaik gue, sebut saja Melita, bahkan sudah ga kaget lagi kalo gue bilang gue jatuh cinta. Paling dia nanya, “sama siapa?”.

Hobby gue ini baru-baru saja muncul dan makin menggila, terutama setelah masuk kuliah. Bila dihitung-hitung gebetan gue mulai dari masuk kuliah sampai dengan semester 4 sekarang mungkin udah hampir 50’an orang. Ga usah kaget, biasa aja. Cuma gebetan belom pacar ini kan.
Gebetan gue itu seperti flora di Indonesia, penuh keanekaragaman hayati. Ga ada tipe-tipe khusus. Gue yang terkadang bisa menjelma menjadi seorang pengidap OCD ini pernah jatuh cinta sama seorang anak pecinta alam, dan berencana untuk masuk di klub pecinta alam, hasilnya? Gue di cemooh -_-

Selain anak pecinta alam, gue juga pernah jatuh cinta sama senior gue yang side job nya jadi pom-pom boys. Gue jatuh cinta sama senior gue yang namanya lucu, namanya Bintang. Sama dosen killer juga pernah, dan itu Cuma karena dia ngomong “nak..”, buat gue itu sisi lembut yang ga pernah terlihat oleh mahasiswa lainnya. Selain itu ada juga temen sekelas gue yang anak band lah, yang pengusaha lah, dan lain sebagainya. Kalau dilihat secara fisik semuanya hampir ga ada yang sama, tapi ada satu kesamaan diantara mereka semua yang gue tahu secara pasti, dan itu juga merupakan hal yang membuat gue jatuh cinta sama mereka, hal itu.. humoris.

Selain humoris, gue juga paling suka sama cowo yang menantang. Saking sukanya gue sama sesuatu hal yang menantang, gue sampe pernah juga jatuh cinta sama salah satu temen gue yang *maaf* “ngondek”, tapi buat gue dia mirip sama Kurt Hummel, salah satu peran di serial GLEE. Gue tertantang untuk menjadikan dia normal dan mau sama gue. Super sekali.
Tapi sampai sekarang, banyak diantara mereka yang gugur dari papan cinta gue. Ga tau kenapa. Meli bilang gue itu Cuma penasaran sama mereka, jadi setelah bisa bbm’an puaslah gue. I’m not sure, but, maybe she got a point. Maybe she’s right.

Masalahnya semakin kesini gue merasa pacar gue udah ga cukup “cukup” buat gue. Saat SMA maybe dia amat sangat membantu kepopuleran gue, dan memang itu juga menjadi salah satu alasan gue pacaran sama doi, hehe. 
Tapi makin kesini gue ngeliat temen-temen gue dijemput sama cowonya yang pake jazz lah, ninja lah, dan yang barusan gue tebengin malah pake mercedes. Kalau pacaran juga ga usah mikir panjang, nonton ya nonton sekalian di Blitz, makan ya makan di Senayan atau PVJ. Handphone bagus, mobil punya, usaha ada, kuliah jalan, rumah gede, ipad tersedia, baju keren, muka bersih, anak gaul senayan/pvj banget lah. Coba lo jadi gue, ngiri ga?????? Cowo gue ga kuliah, dia kerja buat menghidupi keluarganya, sampe sini aja lo pasti udah tau kan maksud gue??

Nyokap gue ternyata benar, hidup itu butuh yang namanya keseimbangan. Beliau ga perlu repot-repot mengerahkan teman-temannya buat memata-matai gue dan cowo gue di Jakarta seperti yang dilakukan bokap gue. Nyokap gue Cuma duduk diam dan dia yakin kalo suatu saat gue pasti bosen sendiri kalau memang jarak diantara gue dan cowo gue udah terlalu jauh. Masalahnya sekarang kira-kira cowo gue mau ga ya menyamai gue? Dengan usaha dan niat dari dirinya sendiri. Ga harus di dorong-dorong sama gue karena hasilnya ga akan baik juga kalau dipaksa.

Jujur saat menulis tulisan ini, chart “the most lovable boys” peringkat 1 versi gue lagi diduduki sama seorang senior gue yang mirip parodi nya Edward Cullen di produksi Hillywood. Namanya sebut saja Nando *nama disamarkan*. Anaknya putih, bersih, rambutnya lucu, namanya juga lucu, orangnya pun juga lucu, GANTENGNYA GOKIL LAH POKOKNYA. Ehh, maaf capslock jebol saking semangatnya. But, seriously ganteng poll lho anaknya. Tidak tau apakah gue akan bosen juga nantinya atau gimana, gue juga gatau.


Yang jelas untuk membuat kalian tidak men’judge gue sebagai blogger playgirl, gue Cuma bisa bilang ini. Ketika gue yang jatuh cinta itu biasa, tapi kalau hati gue yang jatuh cinta itu beda. Yang jelas setengah hati gue sampe sekarang masih dibawa sama seseorang, dan belum dibalikin. Gimana hati gue bisa jatuh cinta lagi kalo gitu? Ya kan, ER?

-FOZ-